Sejarah
Share on Facebook

Sejarah Singkat STT BNKP Sundermann

 

Berita Injil di Nias telah ada sejak 27 September 1865 yang kemudian dilembagakan menjadi BANUA NIHA KERISO PROTESTAN (BNKP). Pada Persidangan Sinode I BNKP tahun 1936 maka BNKP-lah satu-satunya organisasi gereja  di Nias yang kemudian dari gereja pribumi Nias itu empat sudah menjadi Anggota PGI (BNKP, AMIN, AFY dan ONKP). Pada perkembangannya BNKP telah lama berupaya melakukan pembinaan warga di Nias, hal ini ditandai denagn didirikannya “Sekolah Sinenge” (Guru Jemaat) pada tahun 1914. Tamatan dari kursus ini datahbiskan menjadi pelayan (Pembantu Pendeta) dan diberi kepercayaan memimpin satu jemaat.

 

Pada masa pendudukan Jepang (1940) didirikan Seminari di Ombölata yang mendidik Guru-guru Zending yang telah melayani di jemaat-jemaat. Pada tahun 1942 Seminari ini ditutup dan Guru-guru Zending yang tadinya dididik di Seminari tersebut ditahbiskan menjadi Pendeta. Sesudah Perang Dunia II BNKP menyelenggarakan satu ‘Kursus’ yang membina 17 sinenge dan 17 jurutulis selama satu tahun (1946-1947) untuk menjadi pendeta. Sesudah itu tidak dibina lagi sampai tahun 1952. Dalam hal kekurangan Pendeta, maka untuk membina pendeta baru untuk sementara dilaksanakan melalui sekolah-sekolah Teologi di luar Nias. Tamatan Sekolah Guru Injil” (1954) dikirim ke STT di Pematang Siantar dan kemudian menjadi Pendeta di BNKP.

 

Upaya-upaya BNKP dalam menanggulangi kekurangan tenaga Pendeta maka pada tahun-tahun 60-an BNKP mengirim banyak calon guru agama ke luar daerah dan baru pada tahun 1968 BNKP mendirikan Pendidikan Guru Agama Atas Kristen (PGAAK; di kemudian hari PGAK) di Ombölata. Tujuan utamanya adalah mengadakan pembinaan guru agama untuk sekolah dan pembinaan sinenge. Selain PGAK juga didirikan satu Sekolah Pengerja Kristen (SPK) di bawah naungan Seminari di Ombölata. Pada tahun 1970 SPK dipindahan ke Tohia, bagian kota Gunungsitoli, di sana dikembangkan menjadi Pusat Latihan Pendidikan Injili (PLPI). PGAK juga dipindahkan ke Tohia dan menjadi bagian dari PLPI. Dengan demikian pusat pendidikan dan pembinaan BNKP bergeser dari Ombölata ke Tohia, Gunungsitoli.

 

Sejak tahun 1970 PLPI menjadi sarana pembinaan dan “dapur” persiapan pelayan-pelayan BNKP. Berbagai macam kursus penyegaran diselenggarakan sesuai dengan kebutuhan dan kapasitas anggaran serta sumber daya manusia PLPI. Namun pada tahun-tahun 70-an dan 80-an ini tidak dikembangkan lagi menjadi wadah pendidikan teologi tinggi. Tenaga pendeta BNKP dibina di beberapa STT di Sumatera, Jawa, Sulawesi (Ujung Pandang). Sampai sekarang banyak calon pendeta BNKP adalah tamatan STT dari luar daerah tersebut.

 

Dasawarsa terakhir data statistik BNKP menunjukan jumlah warga jemaat 339.000 jiwa yang terorganisir dalam 7 Ressort, 92 Distrik dan 802 Jemaat. Untuk peningkatan pelayanan kepada warga Jemaat BNKP, dibutuhkan tenaga pendeta yang memadai dari segi jumlah serta berkualitas dan beriman, yang dapat melayani mulai dari Aras Sinodal, Ressort, Distrik, Jemaat dan unit pelayanan. Bila dibandingkan dengan tenaga pendeta  yang tersedia yakni 120 orang dengan jumlah jiwa yang dilayani maka semestinya BNKP mempunyai Pendeta sebanyak 350 orang karena idealnya seorang Pendeta hanya dapat melayani 1 : 1.200 orang.  Kekurangan pelayan ini berpengaruh pada lambannya pembinaan terhadap warga jemaat.

 

Selain kebutuhan pelayan di BNKP, juga kebutuhan tenaga pelayan Pendeta di Gereja- Gereja Anggota PGI di Nias, yakni Gereja AMIN, AFY, ONKP dan gereja Protestan lainnya di Kabupaten Nias. Pada pihak lain, untuk pendidikan keagamaan Kristen di Sekolah-sekolah juga sangat lamban karena kekurangan tenaga guru Agama, terlebih lulusan Perguruan Tinggi, baik program profesional (Diploma) maupun strata satu.

 

Minimnya tenaga pelayan dan tenaga Guru Agama ini disebabkan karena: kondisi ekonomi masyarakat yang sangat rendah, tingginya pembiayaan perkuliahan karena jauhnya Nias dari pusat pendidikan (luar Nias), tidak adanya Perguruan Tinggi Teologi dan PAK di Kabupaten Nias.

 

Mengatasi pergumulan tersebut maka timbul gagasan dan pemikiran baru untuk menyiapkan dan memberdayakan Tenaga Pelayanan yang dimulai dari Aras Jemaat sebagai basis pelayanan yang terendah di BNKP, maka pada tahun 1987 didirikan Pendidikan Kader Guru Jemaat, kemudian berkembang dan ditingkatkan menjadi Pendidikan Guru Jemaat sejak tahun 1997, setelah kebutuhan Guru Jemaat hampir tertutupi/tersedia maka Pendidikan Guru Jemaat ini dikembangkan menjadi Pendidikan Pendeta Program Strata Satu (S-1) serta membuka program Pendidikan Agama Kristen (PAK), baik Diploma maupun S1.

 

Hal tersebut di atas bertolak atas kesadaran bahwa perkembangan kemajuan zaman yang sangat pesat ditengah-tengah jemaat sangat mempengaruhi hidup dan kehidupan manusia, maka perlu diseimbangkan dengan tersedianya Tenaga yang handal dan berkualitas. Untuk mengatasi hal itu tahun 1998 BNKP mendirikan lembaga pendidikan formal  di bawah naungan PLPI yang diberi nama Sekolah Theologia BNKP Sunderman dengan menerima mahasiwa baru sebanyak 17 orang. Tahun 1999 Sekolah Theologia Nias berubah dan ditingkatkan menjadi Sekolah Tinggi Theologia BNKP Sundermann.

Bagaimana pendapat anda tentang website ini?

( 281 )
( 69 )
( 25 )

027547

Pengunjung hari ini : 26
Total pengunjung : 27547
Hits hari ini : 54
Total Hits : 132650
Pengunjung Online: 1